SMA Negeri 1 Kudus

  • sma1kds@yahoo.co.id
  • (0291) 431368
  • RSS
Siswa SMAN 1 Kudus Meraih Bronze Medal dalam 21st Hongkong Youth Science Tech Innovation Competition

Pada akhir Maret tahun 2019, 2 siswa dari SMAN 1 Kudus bernama Muhammad Najmi Hafiy dan Muflikh Kas Yudamaulana meraih medali perunggu di lomba karya ilmiah tahunan di HongKong tepatnya di HongKong Science Park.

Cerita bermula ketika mereka merancang sebuah aplikasi yang sasarannya adalah anak pengidap disleksia. Mereka lalu berdiskusi dengan pembimbing yakni, Ari Wijaya, S.Kom selaku pembimbing KIR di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. Penelitian mereka memakan waktu sekitar 4 bulan mulai dari perancangan hingga menjadi aplikasi seutuhnya. Mereka menamai aplikasi mereka dengan nama “Dyslexia Game-App as Therapy Tool for Dyslexia Sufferer”. Sebelum meluncur ke HongKong mereka harus mengikuti pelatihan khusus dalam computing. Mereka berdua terpilih mendapat undangan dari pihak terkait untuk mengikuti 2 perlombaan sekaligus di HongKong yakni, International STEMathon dan The 21st  HK Youth STIC (Science Technology Innovation Competition).

International STEMathon memisahkan kedua peserta menjadi 2 kelompok berbeda dan mencampurnya dengan peserta secara multinasional. Untuk tahun ini bertemakan Saving Our Oceans in 30 Hours, yang mana beberapa kelompok harus membuat solusi untuk memecahkan masalah dari kerusakan lautan yang ada di HongKong dengan memanfaatkan STEM skill di setiap kelompok.  Acara lomba berlangsung selama 2 hari dan bertempat di HongKong Science Park. “Masalah bahasa adalah kendala utama yang kami alami, kami baru mengetahui jika orang HongKong sulit berbahasa Inggris”, ucap Hafiy. Tetapi mereka sangat senang bisa mengikuti perlombaan tersebut selain mendapat pertemanan secara Internasional mereka juga bisa mengenal budaya HongKong lebih banyak. Beda lomba beda cerita, setelah International STEMathon usai, Hafiy dan Muflikh harus dihadapkan dengan perlombaan lainnya yakni, The 21st  HK Youth STIC (Science Technology Innovation Competition), khusus untuk event ini sudah berlangsung sejak tahun 1997 di HongKong dan sangat ditunggu-tunggu tidak hanya kalangan pelajar melainkan juga kalangan guru. Berhadapan dengan 8 negara dan 400 siswa HongKong yang terpilih membuat mereka tak gentar membawakan research project  mereka. Dan benar saja Tim satu-satunya Indonesia ini mampu mengukuhkan  medali perunggu. Rasanya seperti tak percaya dapat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Mereka sangat senang mampu pulang ke Tanah air tanpa tangan hampa.

Ke depannya mereka akan tetap fokus dalam penelitian terlebih penelitian di bidang computing. Walaupun hanya berasal dari kalangan keluarga yang bisa dikatakan biasa saja tak membuat pejuang muda ini gentar menorehkan tinta emas di berbagai ajang kompetisi baik nasional maupun internasional.

 

- Muhammad Najmi Hafiy, XI MIPA 6

KOMENTARI TULISAN INI
TULISAN TERKAIT