SMA Negeri 1 Kudus

SMA Negeri 1 Kudus

Bersama SMA 1 Kudus Meraih Prestasi

  • sma1kds@yahoo.co.id
  • (0291) 431368
  • RSS
Artikel Guru

Role Playing Mudahkan Belajar Unggah Ungguh

Oleh: Mei Wulan Sari, S.Pd.

Guru Bahasa Jawa di SMA N 1 Kudus

 

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan suku bangsa Jawa. Bahasa yang merupakan warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya. Dalam penggunaan Bahasa Jawa harus memperhatikan tingkatan orang yang diajak berbicara, karena Bahasa Jawa terdiri atas beberapa tingkatan, salah satunya adalah Krama Inggil. Namun, saat ini penggunaan bahasa Jawa ragam krama semakin meluntur dengan zaman modern seperti ini. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak sekarang atau lebih dikenal anak zaman now sudah tidak menggunakannya lagi sehingga merasakan kesulitan dalam pengucapannya. Mereka tidak terbiasa menggunakan krama inggil. Banyak yang mengatakan “wong jawa tapi ora njawani” itulah yang sering diungkapkan oleh masyarakat Jawa. Padahal, bagian dari penggunaan bahasa yang santun pasti akan dibarengi dengan tata karma dan unggah-ungguh yang santun pula. Hal ini berangsur-angsur akan berdampak kepada terbentuknya karakter baik dalam diri peserta didik.

Pendidikan karakter saat ini merupakan prioritas utama dalam dunia pendidikan.  Kontribusinya diyakini cukup besar dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa untuk menyongsong era milenial saat ini. Terkait dengan hal itu, maka bahasa Jawa sebagai mata pelajaran muatan lokal wajib di Jawa Tengah, memiliki andil tersendiri dalam pencanangan pendidikan karakter yang digalakkkan oleh pemerintah. Mengingat bahwa bahasa Jawa memiliki pola tersendiri dibandingkan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya. Pembeda yang sangat kentara yakni pada  tingkat tutur yang terdapat di dalam bahasa itu sendiri sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tingkat tutur itu sendiri dimaknai sebagai variasi bahasa yang perbedaan antara tingkat satu dengan yang lainnya ditentukan oleh perbedaan kesopanan penutur terhadap mitra tutur (Poedjasoedarma, 1979: 3).

Berdasarakan hal itulah maka mempelajari tingkat tutur dalam berbahasa  Jawa menjadi sangat penting. Hal ini akan mewujudkan tercapainya tujuan dari pendidikan berbasis karakter. Akan tetapi, dalam praktiknya tak semudah yang kita bayangkan, karena fakta di sekolah menunjukkan bahwa peserta didik masih kesulitan untuk belajar dan praktik berbahasa Jawa aktif sesuai tingkat tutur yang benar. Rata-rata dari peserta didik masih belum tepat dalam menggunakan ragam basa sesuai tingkat tuturnya. Sudaryanto dan Ekowardoyo membagi tingkat tutur atau unggah-ungguh menajdi ngoko, ngoko alus, krama, dan krama alus. Semuanya memiliki ciri dan tingkat kesopanan yang berbeda ketika bertutur dengan mitra tuturnya. Karena itulah biasanya peserta didik kesulitan untuk menerapkannya dalam berkomunikasi sehari-hari.

Fakta-fakta tersebut menjadikan pembelajaran pada materi tingkat tutur Bahasa Jawa (Unggah-ungguh basa) menjadi abstrak untuk diajarkan kepada siswa, karena mereka masih memiliki anggapan bahwa materi tersebut  sukar untuk dipelajari dan dipraktikkan. Apalagi materi unggah-ungguh ini tidak berdiri sendiri tetapi melalui teks ataupun bacaan seperti pada novel. Inilah yang merupakan salah satu ganjalan besar untuk belajar tingkat tutur secara efektif. Oleh karenanya, pemilihan metode belajar yang tepat dan menyenangkan adalah kunci untuk menyukseskan pembelajaran tingkat tutur bahasa Jawa pada lingkungan sekolah.

Role Playing sebagai metode pembelajaran bisa diterapkan pada materi tingkat tutur bahasa Jawa. Karena menurut Jill Hadfileld metode pembelajaran role playing merupakan salah satu permainan gerak yang didalamnya terdapat aturan, tujuan dan sekaligus melibatkan unsur bahagia. Dalam bermain peran siswa mesti diarahkan pada situasi tertentu seakan-akan berada diluar kelas, meskipun kenyataannnya pada saat pembelajaran berlangsung didalam kelas. Selain itu model pembelajaran role playing tak jarang dimaksudkan sebagai salah satu bentuk aktifitas dimana peserta didik membayangkan dirinya seakan-akan berada diluar kelas dan berperan sebagai orang lain (Basri Syamsu, 2000).

Menggunakan dasar teori itulah maka peserta didik Kelas XI di SMA N 1 Kudus mempraktikkan metode pembelajaran Role Playing untuk mendalami materi novel Jawa terutama untuk tingkat tutur bahasa Jawa (unggah-ungguh basa). Penerapan pembelajaran Role Playing  diterapkan melalui praktik langsung dalam pembelajaran jarak jauh. Pelantar yang digunakan adalah Google Meet, dan penyerahan tugas kelompok dibuatkan ruang tugas dalam Google Classroom. Setidaknya inilah solusi pendidik ketika pembelajaran bahasa Jawa yang dilalukan secara virtual di masa Pandemi. Pertama, membagi kelompok belajar yang terdiri dari 4 orang pada tiap kelompoknya. Kedua, peserta didik bersama guru menentukan cuplikan novel yang akan digunakan, kemudian menyusun serta menyiapkan skenario belajar. Ketiga, peserta didik menentukan perannya dalam dialog sesuai dengan cuplikan novel yang digunakan. Keempat, peserta didik dalam tim membuat dialog sesuai dengan perannya dan menggunakan tingkat tutur atau unggah-ungguh yang tepat. Kelima, peserta didik praktik secara virtual untuk mempresentasikan dialog yang telah dibuatnya. Mereka melakukan group video calling bersama kelompoknya yang berjumlah empat orang. Keenam, peserta didik bersama guru memberikan simpulan terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Ketujuh, peserta didik bersama guru melakukan refleksi pembelajaran. Dengan demikian, para siswa dapat belajar bermain peran dengan tatap muka meskipun dilaksanakan di dalam jaringan.

Penerapan metode Role Playing di SMA N 1 Kudus ternyata bisa memudahkan mempelajari materi tingkat tutur atau unggah-ungguh pada novel Jawa secara konkret. Hal  ini, dikarenakan pada proses pembelajaran tersebut melibatkan peran siswa dalam pembelajaran secara aktif dan menyenangkan. Selain itu, proses belajar yang menyenangkan akan membangun kesan khusus dalam pembelajaran, sehingga belajar tingkat tutur terasa mudah dan efektif. (*)

 

KOMENTAR

Artikel yang inspiratif dan berani menerima perubahan. Memang seharusnya demikian ya Bu, dengan sepenuh hati kita mengajar, karena sesungguhnya anak-anak kita sudah membuka sepenuhnya untuk belajar.

  • Kamis, 02 Desember 2021
  • Eko Nur Budi
KOMENTARI TULISAN INI
TULISAN TERKAIT