SMA 1 Kudus

Official Website SMA 1 Kudus

Drs. Eko Nur Budi, M.Pd sebagai Guru Berprestasi Kabupaten Kudus 2016

 

2

3

Menjadi guru adalah pengabdian Bekerjalah dengan CINTA

GORESAN CATATAN PERJALANAN KARIR

Motivasi

Membincang Guru Berprestasi agaknya sebuah kebanggaan. Kebanggaan dari seluruh masyarakat Indonesia, mengingat bahwa guru adalah garda depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Garda depan dalam mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi muda, generasi penerus bangsa. Karena di tangan pemudalah bangsa ini bisa terus maju. Di tangan gurulah masa depan generasi muda ini ditentukan. Oleh karena itu, sebagai guru harus berhati-hati dalam menjalankan tugas mulia ini. Jika salah dalam mendidik mereka, maka akan salah pula produk pendidikan yang dihasilkan. Jadi, dibutuhkan lebih dari sebuah  kerja keras, kesabaran, tidak hanya ambisi, utamanya kecerdasan untuk menjadi seorang guru.

Best Teacher of The Year, kali pertama menulis deskripsi diri pada lembaran ini, tak pernah terpikirkan bahwa saya akan berada di satu titik, menengok ke belakang dan melihat sebuah perjalanan. Perjalanan panjang yang sudah 2 dasawarsa menjadi titian saya. Seperti yang sekarang saya lakukan.  Perjalanan itu berawal dari sebuah tulisan di atas secarik kertas yang selama itu saya dambakan. Pengakuan pemerintah bahwa saya adalah guru. Tahun 1998 tertera dalam sebuah tulisan, setidak-tidaknya inilah cita-cita saya. Inilah bukti dari keseriusan saya dari cita-cita menjadi seorang pendidik, yang harus selalu menghidupi anak bangsa dengan ilmu pengetahuan.

1

Berawal dari penempatan pertama saya di SMP 2 Jekulo Kudus, karir untuk menjadi pendidik yang berpotensi selangkah demi selangkah saya jalani. Justru di SMP 2 Jekulo itulah saya menemukan banyak tantangan untuk memacu peserta didik saya yang berasal dari wilayah pinggiran agar dapat bersaing dengan peserta didik lainnya di pusat kota. Karena cinta saya terhadap pekerjaan inilah yang membuat saya harus selalu meningkatkan pengetahuan saya. Mulai belajar dari wali kelas, mendidik anak-anak dalam kegiatan ekstrakurikuler, menjalankan kurikulum sekolah sebagai urusan kurikulum, hingga terakhir menjadi wakil kepala sekolah pada tahun 2010-2012. Semua itu telah menempa saya untuk terus belajar. Tahun 2008 saya bertekat melanjutkan studi ke jenjang S2 pada jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia di UNS. Alhasil lulus lebih awal dengan predikat ‘Pujian’.

Usaha untuk membekali  diri secara profesional tidak berhenti sampai di situ. Pada tahun 2009 saya direkrut oleh Decentralized Basic Education 3 (DBE3) Project yang didanai USAID, bertujuan untuk mendukung Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama untuk meningkatkan mutu dan relevansi pendidikan menengah pertama dan pendidikan nonformal.  Untuk mencapai tujuan ini, DBE3 telah mengembangkan dan melaksanakan program pelatihan guru yang disebut dengan Program Pelatihan Kecakapan Hidup.  Program Pelatihan Kecakapan Hidup adalah  program pelatihan guru  yang secara khusus dirancang untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan untuk memenuhi standar nasional pendidikan dalam hubungannya dengan guru, muatan dan proses.  Dari program DBE 3 itulah saya semakin matang untuk menjadi guru profesional dalam memberikan pembelajaran yang bermakna kepada peserta didik. Pada tahun 2012 saya ditugaskan oleh pemerintah daerah untuk turut serta membangun dan lebih memajukan pendidikan di SMA 1 Kudus. Sebuah tantangan besar yang harus saya jalani. Namun, karena semula saya sudah bertekad untuk mencerdaskan anak bangsa di manapun saya berada, tugas mulia itu saya jalani dengan baik.

4

Selain bertujuan meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan tugasnya mewujudkan pendidikan yang bermutu, memilih guru berprestasi juga merupakan salah satu program pemerintah sebagai wujud perhatiannya atas prestasi dan dedikasi guru dalam bidang pendidikan. Niat baik pemerintah ini menjadi salah satu faktor yang memotivasi saya mengikuti pemilihan guru berprestasi. Sekalipun saya sangat menyadari, masih banyak  kekurangan saya dalam kehidupan ini baik sebagai pribadi maupun dari sudut pandang profesionalitas sebagai guru. Meskipun saya baru memperoleh sertifikat pendidik profesional pada tahun 2013, sebelumnya saya selalu menunjukkan komitmen saya untuk menjadi guru yang profesional. Menjadi guru yang profesional tidak harus menunggu sertifikasi pendidik. Motivasi yang terus tumbuh untuk mencintai pekerjaan saya inilah yang membuat saya tak pernah berhenti untuk mengembangkan diri. Bagi saya, guru yang berprestasi adalah guru yang dapat memberikan contoh konkret kompetensi guru kepada siswa  sehingga siswa termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajar mereka. Sebagai contoh, jika guru menginginkan siswa menjadi juara, maka guru juga harus pintar dan menguasai materi pelajaran, menguasai teori-teori belajar dan prinsip-pronsip belajar yang mendidik. Jika guru ingin memberikan perlakuan yang sama kepada peserta didik, guru harus mengenal karakteristik peserta didik, dan memahami potensi peserta didik secara menyeluruh.

Menyadari hal itu, saya berkomitmen agar selalu cerdas dalam bersikap, baik sebagai pengajar, maupun sebagai pendidik. Sebagai seorang professional guru harus memiliki 4 kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Sehingga guru sebagai tenaga profesional mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan yaitu menciptakan insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Oleh karena itu, di mana pun saya ditugaskan profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang cerdas, profesional dan bermartabat.

 

Visi dan Misi

Guru profesional yang bertugas di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus mengejawantahkan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana yang termaktub dalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pada Bab II Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Kejelasan tujuan hidup sepanjang hayat seperti tuntutan Undang-Undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional mengantar saya merancang visi dan misi dalam hidup dan kehidupan saya sebagai guru.

Visi:

Visi saya sebagai guru adalah bekerja dengan cinta dalam terwujudnya peserta didik menjadi manusia  berkualitas.

 

Misi:

Adapun misi saya untuk mencapai visi di atas adalah :

  1. Melalui pelajaran Bahasa Indonesia mampu menginspirasi siswa membangun dirinya dalam menumbuhkan keterampilan berbahasa untuk membentuk kepribadian.
  2. Berbagi ilmu pengetahuan dan kebaikan kepada sesama, terutama kepada peserta didik.
  3. Mendidik siswa dengan sepenuh hati tanpa pamrih tanpa kecuali untuk mencerdaskan generasi muda sebagai pengganti kita kelak dimasa yang akan datang.
  4. Membangun karakter dan jiwa nasionalisme siswa dengan mengintegrasikan nilai-nilai Imtaq dan budaya bangsa ke dalam mata pelajaran yang saya ampu.

 

            Untuk meuwujudkan visi dan misi itu saya senantiasa memacu diri untuk meningkatkan kompetensi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan, melaksanakan penelitian tindakan kelas dan aktif dalam forum ilmiah. Membantu siswa dalam kesulitan belajar tanpa membedakan status ekonomi sehingga semua siswa dapat belajar sesuai dengan cita-cita yang diharapkan untuk berprestasi yang maksimal. Menjadi pribadi yang berdedikasi dengan cara mencintai profesi saya sebagai guru semaksimal mungkin dan bertanggung jawab secara maksimal terhadap keberhasilan siswa, serta berusaha mencetak prestasi-prestai baik bagi diri sendiri maupun orang lain terutama peserta didik. Dengan demikian, saya dapat memberikan keteladanan setidak-tidaknya bagi peserta didik, teman sejawat, dan lingkungan.

Kesimpulan

Guru adalah cermin keteladan bagi anak didiknya, maka segala bentuk prestasi, kelebihan, kemampuan, kecerdasan, kebijaksanaan, kasih sayang, dan segala bentuk pemahaman kepada anak didik dengan penuh ketulusan dan kerendahan hati. Dalam pengembangan diri, seorang guru tidak bisa hanya sekadar belajar teori-teori dalam ruangan yang terbatas, melainkan guru harus berpikir tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, yang terpenting adalah bagaimana seorang guru harus berpikir secara mandiri, kreatif, inovatif dan berkualitas

Share this page

SMA 1 Kudus