Selamat Datang di Website SMA 1 Kudus

Judul Abstrak
Sekolah

SMA  Negeri  1  Kudus  berdiri  sejak  tanggal  1  Agustus  1960 ...

Visi

Unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki ketrampilan untuk hidup mandiri, ....

Misi

Membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. ...

Tujuan

Terlaksanakannya KTSP berdasarkan 8 SNP dengan menambahkan nilai X ( adaptasi dan adopsi kurikulum dari negara OECD). ...

Judul Abstrak
Data Guru Data Guru SMA 1 Kudus
Data TU Data Staff Tata Usaha SMA 1 Kudus
Judul Abstrak
Jadwal UTS SMT Gasal 2014/2015
JADWAL  ULANGAN TENGAH SEMESTER GASAL TAHUN AJARAN 2014/2015
 
MINGGU I  (Tanggal 10 – 16 Oktober 2014), waktu di sesuaikan Jadwal Pelajaran
Kelas Jum’at Sabtu Senin Selasa
Kalender Kegiatan SMA 1 Kudus Tahun Pelajaran 2014/2015

KALENDER KEGIATAN  SMA 1  KUDUS TAHUN PELAJARAN 2014/2015
Hari Belajar Efektif (HBE): Semester 1 = 107 Hari Semester 2 = 104 Hari

Jadwal Pelajaran Tahun Pelajaran 2014/215

Jadwal Pelajaran 2014/2015

Jadwal Pelajaran Tahun Pelajaran 2013/214

Jadwal Pelajaran

Struktur Kurikulum 2013

Struktur Kurikulum 2013

Judul Abstrak
Data Siswa Data Siswa SMA 1 Kudus
Data Alumni Data Alumni SMA 1 Kudus

There are currently 0 users online.

  • Mutiara
  • lutviinoo
  • taka_elang
  • nikzerblast
  • Rahita Nadya Anwar

Kurikulum 2013/2014

Alhamdulillah SMA 1 Kudus Tahun Ajaran 2013/2014 menggunakan kurikulum baru yaitu kurikulum 2013.Di Kabupaten Kudus hanya tiga sekolah yang malaksanakan kurikulum baru yaitu : SMA 1 Kudus, SMA 1 Bae, dan SMA 2 Kudus. Semoga dengan kurikulum baru kualitas pendidikan di Indonesia pada umumnya dan khususnya pada SMA 1 Kudus tercinta ini semakin baik.

Pengertian Kurikulum
 
Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja (sumber : wikipedia)
 
Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
 
Komponen Kurikulum
 
Pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab bila satu komponen saja tidak ada  akan mengakibatkan tidak berfungsinya komponen itu sendiri dan komponen lainnya.
 
Pendapat para ahli seringkali berbeda dalam menetapkan komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada pula yang hanya mengemukakan 4 komponen kurikulum. Beberapa pendapat para ahli menyampaikan tentang komponen kurikulum antara lain :
 
Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen kurikulum, yaitu:

  1. komponen tujuan
  2. komponen isi/materi
  3. komponen media (sarana dan prasarana)
  4. komponen strategi dan
  5. komponen proses belajar mengajar.

 
Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4 komponen kurikulum, yaitu:

  1. Objective (tujuan)
  2. Knowledges (isi atau materi)
  3. School learning experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan
  4. Evaluation (penilaian). Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni:
  • Tujuan
  • Isi dan struktur kurikulum
  • Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar), dan
  • Evaluasi.

 
Fungsi Kurikulum
Fungsi kurikulum secara umum adalah sebagai berikut : 

  •  Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,
  • Kurikulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan-tujuan itu,
  • kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Kurikulum 2013
 
(sumber : Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)
 
Terkait Kurikulum, Dalam Konsolidasi Program dan Anggaran diketahui bahwa Pemerintah melalui Kemdikbud akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 secara bertahap. Kurikulum 2013 merupakan kelanjutan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Selain itu penataan Kurikulum pada Kurikulum 2013 dilakukan sebagai amanah dari Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang SIstem Pendidikan Nasional dan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
 
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan 2 (dua) strategi utama yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas pembelajaran dicapai melalui 3 tahapan yaitu efektifitas Interaksi, efektifitas pemahaman, dan efektifitas penyerapan.
 

  1. Efektifitas Interaksi akan tercipta dengan adanya harmonisasi Iklim akademik dan budaya sekolah. Iklim dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan dari kepala sekolah dan jajarannya. Efektifitas Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah.
  2. Efektifitas pemahaman menjadi bagian penting dalam pencapaian efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat tercapai apabila pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (Menyimak, Melihat, Membaca, Mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan,  mengkomunikasikan. Oleh karena itu Penilaian berdasarkan proses dan hasil pekerjaan  serta kemampuan menilai sendiri.
  3. Efektifitas Penyerapan dapat tercipta mana kala adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya kesimbungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII. Selanjutnya kesinambungan pembelajaran vertikal bermakna adanya kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat SD, SMP, sampai dengan SMA/SMK.

Sinergitas dari ketiga efektifitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.
Selanjutnya, penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam pelajaran. Hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output.
 
Penambahan jam pelajaran bukan suatu hal kemustahilan. Karena kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah jam pelajaran seperti KIPP dan MELT di AS, Korea Selatan. Jika dibandingan dengan negara-negara lain jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi sudah didukung dengan pembelajaran tutorial.
 
Perubahan kurikulum diperlukan karena adanya perubahan zaman, sehingga kebutuhan dalam bidang pendidikan pun ikut berubah, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap yang harus dimiliki generasi muda bangsa. Apalagi Indonesia memiliki bonus demografi dalam jumlah usia penduduk yang produktif dalam kurun waktu 2010-2040.
 
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan bagian dari strategi meningkatkan capaian pendidikan. Disamping kurikulum, terdapat sejumlah faktor diantaranya: lama siswa bersekolah; lama siswa tinggal di sekolah; pembelajaran siswa aktif berbasis kompetensi; buku pegangan atau buku babon; dan peranan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan.
 
Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Hal ini sejalan dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 35: kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
 
Tiga faktor lainnya juga menjadi alasan Pengembangan Kurikulum 2013 adalah:

  1. tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, konvergensi ilmu dan teknologi, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
  2. kompetensi masa depan yang antaranya meliputi kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda.
  3. fenomena sosial yang mengemuka seperti perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial (social unrest). Yang keempat adalah persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan karakter.

 
Renungan
 
Pengalaman selama ini, tidak mudah menentukan apa yang selayaknya diajarkan di sekolah agar relevan dengan kebutuhan bangsa, apalagi untuk mengantisipasi perkembangan masa depan yang gaib. Menyusun kurikulum mengharuskan kita mengobyektivikasi dasar-dasar normatif kebangsaan dan pendidikan dengan memperhitungkan segenap potensi dan situasi yang senantiasa berubah. Kebermaknaan sebuah kurikulum justru terletak pada kecermatan logis menghubungkan antara hal-hal prinsipiil dengan hal-hal riil, kemudian mengkristalisasikannya pada mata pelajaran. Tanpa kesungguhan semua pihak, perubahan kurikulum hanyalah sekedar mengutak-atik apa yang sudah ada.
 
Begitu juga seperti uraian di atas, Iklim dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh manajemen dan kepemimpinan dari kepala sekolah dan jajarannya. Kita telah mengenal metode pembelajaran dengan pendekatan personal, Cara Belajar Siswa Aktip, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan lain sebagainya, tetapi sayangnya semuanya tidak dapat dilaksanakan secara maksimal disebabkan oleh keterbatasan kemampuan pada banyak kepala sekolah dan jajarannya dalam mengelolanya.
 
Semoga saja semua kepala sekolah dan jajarannya sebagai jajaran profesional dapat terus meningkatkan kemampuannya dalam mengelola pendidikan, karena sangat diharapkan melalui pendidikan lulusannya dapat menjadikan bangsa ini pada posisi terhormat.
 
Anda dapat berpartisipasi dalam berbagai aspek Pengembangan Kurikulum 2013 dengan memberi tanggapan melalui laman http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id. Kesempatan baik ini dapat Anda gunakan untuk memberi masukan, kritik, dan saran untuk kemajuan SKBM yang ada di SMA 1 Kudus dengan memberi komentar di bawah.